Tugas UAS Riset SDM - Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Di PT. Telkom Malang
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN
BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN DI PT. TELKOM MALANG
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Persaingan
di era globalisasi yang semakin ketat dan kemajuan teknologi yang semakin
cepat, menuntut organisasi harus segera beradaptasi dengan perubahan –
perubahan yang terjadi di lingkungan bisnis. Unggul atau tidaknya sebuah
organisasi dalam persaingan, bergantung pada bagaimana organisasi dalam
mengadaptasi perubahan dan menghasilkan kinerja yang sesuai dengan harapan
pelanggan. Banyak cara yang dapat dilakukan organisasi untuk menciptakan
keunggulan bersaing, tetapi pada dasarnya kunci utama dari keunggulan bersaing
adalah pada kualitas sumber daya manusia.
Sumber
daya manusia sendiri merupakan aset yang paling penting dan paling berharga
dalam perusahaan. Oleh karena itu, setiap aktivitas sumber daya manusia
diperusahaan memerlukan pemahaman dan perencanaan yang matang, agar
masalah-masalah yang sering muncul dalam pemberdayaan sumber daya manusia dapat
diminimalisir. Sumber daya manusia yang dibutuhkan saat ini adalah sumber daya
manusia yang memiliki kinerja optimum untuk tujuan perusahaan, karena keberhasilan
tujuan perusahaan sangat dipengaruhi oleh kinerja sumber daya manusianya
terutama karyawan. Kinerja merupakan
prestasi kerja, yakni perbandingan antara hasil kerja yang secara nyata dengan
standar kerja yang ditetapkan (Dessler, 1992). Informasi mengenai kinerja
sangat membantu organisasi dalam menilai keberhasilan tujuan organisasi, oleh
karena itu penilaian kinerja penting untuk dilakukan.
Pemberdayaan
sumber daya manusia untuk meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugasnya
harus diarahkan oleh pimpinan yang tepat agar tujuan perusahaan tercapai dengan
baik. Salah satu peran penting pemimpin adalah meningkatkan kinerja karyawan
dengan memotivasi dan memberikan dorongan kepada bawahannya untuk bekerja
dengan baik, menciptakan budaya organisasi yang baik dimana nilai-nilai yang
terkandung dalam budaya perusahaan tersebut harus dimiliki oleh setiap
karyawan, serta mengikutsertakan para bawahan dalam pencapaian tujuan
perusahaan.
Salah
satu gaya kepemimpinan yang menekankan pada
pentingnya seorang pemimpin menciptakan visi dan lingkungan yang memotivasi
para bawahan untuk berprestasi melampaui harapannya (Burns dalam Dewi, 2012:15)
adalah gaya kepemimpinan transformasional. Dalam perubahan organsasi, baik
secara langsung maupun tidak langsung aspek terpentingnya adalah perubahan
inividu. Perubahan individu tidaklah mudah, melainkan berproses. Pemimpin
merupakan seorang panutan dalam organisasi, sehingga perubahan harus dimulai
dari tingkat paling atas (pemimpin). Pentingnya gaya kepemimpinan
transformasional juga dikemukakan Bass dalam Yukl (2010:305) bahwa kepemimpinan
transformasional lebih meningkatkan motivasi dan kinerja pengikut dibandingkan
transaksional.
Kepemimpinan
transformasional menurut para ahli didefinisikan sebagai kepemimpinan
transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin dalam bekerja dengan
dan/atau melalui orang lain untuk mentransformasikan, secara optimal sumber
daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna sesuai dengan target
capaian yang telah ditetapkan (Danim 2005: 54). Sedangkan
menurut Menurut Bass (1998) dalam Swandari (2003) mendefinisikan bahwa
kepemimpinan transformasional sebagai pemimpin yang mempunyai kekuatan untuk
mempengaruhi bawahan dengan cara-cara tertentu (Yulk, 1989: 224). Dengan
penerapan kepemimpinan transformasional bawahan akan merasa dipercaya,
dihargai, loyal dan respek kepada pimpinannya. Pada akhirnya bawahan akan
termotivasi untuk melakukan lebih dari yang diharapkan.
Gaya
kepemimpinan Transformasional mengandung arti cara pemimpin mempengaruhi
bawahan untuk lebih dapat berbuat atau berusaha dalam rangka mencapai tujuan
organisasi. Gaya kepemimpinan transformasional dapat mempengaruhi kinerja
karyawan, pemimpin harus mampu mendelegasikan tugas dari pimpinan kebawahan
dengan komunikatif, sehingga diperluka adanya meeting yang membahas tentang
masalah-masalah yang dihadapai bawahan yang berkaitan dengan pencapian target.
Hal tersebut didukung oleh Chen (2004) yang menyatakan bahwa dukungan tinggi
yang ditujukan oleh pimpinan perusahaan mampu memberikan motivasi yang tinggi
dari karyawan untuk bekerja lebih baik dan mencapai target.
Seorang
pemimpin akan mengemban tanggung jawab sangat besar dalam organisasi. Dalam
organisasi pemimpin akan selau dihadapkan oleh berbagai macam masalah, oleh
karena itu seorang pemimpin dituntut untuk bisa membaca situasi dengan baik dan
mampu menyesuaikan gaya kepemimpinannya secara fleksibel agar mampu memenuhi
segala tuntutan situasi yang sedang dihadapi, sehingga para bawahan akan
termotivasi oleh pimpinannya dan mampu melaksanakan tugas yang sudah
ditetapkan.
Selain
gaya kepemimpinan transformasional, perusahaan juga harus memperhatikan budaya
organisasi yang juga merupakan hal yang penting dalam upaya meningkatkan
kinerja karyawan dikarenakan budaya organisasi dapat mempengaruhi cara karyawan
dalam bertingkah laku, cara karyawan memandang pekerjaannya, cara karyawan
bekerja dengan koleganya, serta cara karyawan memandang masa depan dengan wawasan
luas berdasarkan norma, nilai dan kepercayaan.
Reynecke (1997) dalam Liliweri (2014:276)
menjelaskan kebudayaan sebagai deposit pengetahuan, pengalaman, kepercayaan,
nilai, sikap, makna, hierarki, agama, catatan tentang waktu, peranan, relasi
tertentu, konsep universe, objek material, dan pemikiran yang diakui
oleh suatu kelompok manusia yang kemudian diwariskan dari suatu generasi ke
generasi lainnya. Budaya organisasi perlu diperhitungkan dengan kuat dan
sejalan dengan beberapa batasan-batasan yang berlaku. Selama budaya yang
dijalankan yang baik untuk perkembangan setiap individu dan juga perkembangan
organisasi. Budaya tidak serta merta mudah dijalankan, sehingga sangat
diperlukan penyesuaian didalamnya.
Menurut Chattab
(2007:9) Budaya organisasi sebagai suatu sistem peran, aliran aktivitas dan
proses (menunjukkan proses organisasi atau disebut sistem atau pola hubungan
kerja) dan melibatkan beberapa orang sebagai pelaksana tugas atau aktivitas,
yang dirancang untuk melaksanakan tujuan bersama. Sedangkan Robbin (2003:10) menyatakan bahwa
budaya organisasi yang kuat memberikan para karyawan suatu pemahaman yang jelas
dari tugas-tugas yang diberikan oleh para organisasi, mempunyai pengaruh yang
besar terhadap perilaku anggota-anggotanya karena tingginya tingkat
kebersamaan.
Budaya yang kuat
mampu mempengaruhi perilaku dan efektifitas
kerja karyawan. Kinerja karyawan akan sejalan sesuai dengan budaya yang
diterapkan dalam perusahaan. Selain itu, budaya yang diterapkan juga akan mampu
membentuk karakter karyawan dengan sendirinya dalam menjalankan tugas dan
mencapai tujuan perusahaan.
Dalam
kegiatan manajemen perusahaan harus dilakukan dengan jujur dan mampu
menumbuhkan kepercayaan dalam perusahaannya yang menunjukkan sikap integritas. Integritas
akan menciptakan keyakinan dan kepercayaan yang akan menciptakan pencapaian
kerja dalam perusaahan tanpa tekanan dan paksaan. Kinerja karyawan dalam
perusahaan perlu mendapat perhatian dalam mengelolannya. Apabila karyawan dalam
perusahaan tidak ditata dengan baik maka akan menjadi salah satu penghambat
aktivitas dalam mencapai tujuan perusahaan.
Kinerja
karyawan merupakan kajian mengenai perilaku yang berkaitan dengan kemampuan
karyawan yang terbentuk dari pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.
Menurut Mangkunegara, (2002), mengemukakan bahwa “hasil kinerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”. Sedangkan
menurut Hasibuan, (2002), mengemukakan bahwa “pengorbanan jasa, jasmani
dan pikiran untuk menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa dengan memperoleh
imbalan prestasi tertentu”. Dengan kata lain kinerja karyawan merupakan hasil
pikiran, ide dan kesungguhan seorang karyawan dalam melaksanakan tugas yang
menjadi tanggung jawabnya dengan harapan dapat memenuhi tujuan perusahaan.
Adapun
hubungan keterkaitan antara gaya kepemimpinan, budaya organisasi terhadap
kinerja karyawan adalah keduanya saling mempengaruhi kinerja yang dihasilkan oleh
karyawan. Gaya kepemimpinan akan mempengaruhi kinerja karyawan dalam hal
kondisi kerja, dimana akan berhubungan juga dengan bagaimana para bawahan
menerima suatu gaya kemimpinan, senang tidak, suka atau tidak. Di sisi lain gaya
kepemimpinan bisa meningkatkan kinerja atau bahkan menurunkan kinerja karyawan
dalam suatu perusahaan. Sedangkan budaya organisasi akan berpengaruh terhadap
kinerja karyawan dalam hal pembentukan karakter setiap individu, bagaimana cara
karyawan memandang pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, bagaimana cara
karyawan bersosialisasi dengan koleganya serta menciptakan kebiasaan yang baik dan
menjadikanya budaya kuat yang diyakini oleh suatu orgaisasi yang dapat
diwujudkan dalam keseharian kerja sehingga akan berdampak positif terhadap
keefektifan kinerja karyawan maupun organisasi.
Berdasarkan
penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ogi Rifansyah (2016) di Bank BRI
KanWil Pekanbaru, didapatkan hasil dari analisis regresi yang telah dilakukan
menyatakan bahwa hubungan kinerja karyawan (variabel dependen) dengan gaya
kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi (variabel independen) mempunyai
tingkat hubungan yang kuat. Yang artinya
gaya kepemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap
peningkatan kinerja karyawan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. Kantor
Wilayah Pekanbaru, begitupula budaya organisasi (X2) juga berpengaruh positif
dan signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Bank BRI (Persero), Tbk. Kantor
Wilayah Pekanbaru.
Berdasarkan
paparan latar belakang masalah di atas yang melatarbelakangi penulis memilih melakukan
penelitian dengan judul Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Budaya
Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan di PT. Telkom Malang.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka masalah dalam penelitian dapat
dirumusakn sebagai berikut :
1.
Apakah pengaruh gaya
kepemimpinan transformasional terhadarp kinerja karyawan?
2.
Apakah pengaruh budaya
organisasi terhadap kinerja karyawan?
3.
Apakah pengaruh
gaya kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi terhadap kinerja
karyawan?
1.3
Tujuan Penelitian
1.
Untuk mengetahui
pengaruh gaya kepemimpinan transormasional terhadap kinerja karyawan
2.
Untuk mengetahui
pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan
3.
Untuk mengetahui
pengaruh gaya kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi terhadap
kinerja karyawan.
1.4
Manfaat Penelitian
1.
Bagi Perusahaan
Hasil penelitian
ini diharapkan mampu memberikan informasi dan referensi dalam menerapkan gaya
kepemimpinan dan menciptakan budaya organisasi yang bernilai positif guna
meningkatkan kinerja karyawan dalam perusahaan agar lebih optimal
2.
Bagi Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi Asia
Hasil penelitian
ini diharapkan mampu dijadikan sebagai bahan kepustakaan dan bahan referensi
untuk mahasiswa dan adik-adik angkatan di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Asia.
3.
Bagi Penulis
Hasil penelitian
ini diharapkan mampu menambah ilmu pengetahuan dan wawasan peneliti tentang
gaya kepemimpinan transformasional dan budaya organisasi dan diharapkan
peneliti mampu menerapkan dan mengembangkan ilmu tentang SDM yang telah
diperoleh selama menempuh perkuliahan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Landasan
Teori
2.1.1
Manajemen
Sumber Daya Manusia (MSDM)
1.
Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
(MSDM)
Menurut Ike
Kusdyah Rachmawari (2008:1), sumber daya manusia kini makin berperan besar bagi
kesuksesan suatu organisasi. Banyak organisasi menyadari bahwa unsur manusia
dalam suatu organisasi dapat memberikan keunggulan bersaing. Mereka membuat
sasaran, strategi, inovasi dan mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu,
sumber daya manusia merupakan salah satu unsur yang paling vital bagi
organisasi.
2.1.2
Gaya Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan dari suatu pemimpin suatu perusahaan
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kelancaran aktivitas perusahaan,
karena pemimpin yang dapat mempengaruhi, mendorong dan mengendalikan orang lain
atau bawahannya, dengan kepemimpinan yang baik maka seluruh elemen dalam
perusahaan dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Jika seorang
pemimpin berusaha manggatur dan mempengaruhi perilaku orang lain, maka pemimpin
tersebut perlu menentukan gaya kepemimpinan yang digunakannya. Bass (dalam Yukl
1989:211) mendefinisikan bahwa kepemimpinan transformasional sebagai pemimpin yang
mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi bawahan dengan cara-cara tertentu.
2.1.3
Budaya Organisasi
Menurut Ike Kusdyah Rachmawati (2008:28) Budaya
organisasi atau budaya perusahaan merupakan sistem dari nilai-nilai dan
kepercayaan yang disepakati bersama yang memberi arti pada anggota dari
organisasi tersebut dan aturan-aturan yang berlaku. Nilai-nilai ini juga
menciptakan peluang, dan rencana strategis. Seperti sikap dan kepribadian yang
membentuk individu, budaya organisasi membentuk tanggapan dari
anggota-anggotanya. Sedangkan menurut Schein (dalam Riani 2010:6) menyatakan
bahwa Budaya organisasi sebagai suatu pola dari asumsi-asumsi dasar yang
ditemukan, diciptakan atau dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu dengan
maksud organisasi belajar mengatasi atau menanggulangi masalah-masalahnya yang
timbul akibat adaptasi eksternal dan integrasi internal yang sudah berjalan
dengan cukup baik sehingga perlu diajarkan kepada anggota-anggota baru sebagai
cara yang benar untuk memahami, memikirkan dan merasakan berkenaan dengan
masalah-masalah tersebut.
2.1.4
Kinerja
Karyawan
Kinerja
atau prestasi kerja merupakan sebagai kesuksesan seseorang di dalam
melaksanakan suatu pekerjaan (Rivai, 2006). Sedangkan menurut Gomes (2003)
menyatakan bahwa kinerja atau prestasi kerja seorang pegawai pada dasarnya
adalah hasil kerja seseorang pegawai selama periode tertentu dibandingkan
dengan kemungkinan, misalnya standar, target/sasaran atau kinerja yang telah ditentukan
terlebih dahulu atau telah di sepakati bersama. Begitu juga menurut Sulistiyani
dan Rosidah (2003) mengemukakan bahwa “Kinerja merupakan catatan outcome yang
dihasilkan dari fungsi pegawai tertentu atau kegiatan yang dilakukan selama
periode waktu tertentu. Sedangkan kinerja suatu jabatan secara keseluruhan sama
dengan jumlah (rata-rata dari kinerja fungsi karyawan atau kegiatan yang
dilakukan. Pengertian kinerja disini tidak bermaksud nilai karakteristik
individu tetapi mengacu pada serangkaian hasil yang diperoleh selama periode
waktu tertentu”.
2.2. Penelitian Terdahulu
|
Nama
Peneliti
|
Judul
Penelitian
|
Metode
Penelitian
|
Hasil
Penelitian
|
|
Ogi
Rifansyah (2016)
|
Pengaruh
Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja
Karyawan pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. Kantor Wilayah
Pekanbaru
|
Analisis
Regresi Linier Berganda
|
Gaya
Kepemimpinan Transformasional bepengaruh positif dan signiffikan terhadap
Kinerja Karyawan, Budaya Organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap
Kinerja Karyawan, Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Budaya Organisasi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Karyawan.
|
|
Ayu
Putu Putri Garini, I Wayan Bagia dan Wayan Cipta (2016)
|
Pengaruh
Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja
Karyawan pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Singaraja Bali
|
Analisis
Regresi Linier Berganda
|
Gaya
Kepemimpinan Transformasional bepengaruh positif dan signiffikan terhadap
Kinerja Karyawan, Budaya Organisasi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap Kinerja Karyawan, Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Budaya
Organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Karyawan
|
2.4. Kerangka
Pemikiran Teoritis
Kerangka Pemikiran Teoritis
2.5. HIPOTESIS
Menurut Sekaran dan Bougie
(2010:87) hipotesis adalah pernyataan sementara namun dapat diuji dan dapat
untuk memprediksi apa yang ingin ditemukan peneliti dalam tata empiris
peneliti. Hipotesis dinyatakan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan
masalah, karena jawaban tersebut hanya didasari pada teori yang relevan dan
hasil penelitian sebelumnya. Hipotesis sebagai pernyataan mengenai hubungan
antara dua variabel atau lebih yang mengakibatkan adanya implikasi untuk
pengujian hubungan tersebut. Sehubungan
dengan uraian di atas maka dapat dikemukakan hipotesis dalam penelitian ini
sebagai berikut :
H1: Diduga variabel Gaya
Kepemimpinan Transformasional (X1) dan Budaya Organisasi (X2) secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan (Y).
H2 : Diduga variabel Gaya
Kepemimpinan Transformasional (X1) dan Budaya Organisasi (X2) secara parsial
berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan (Y).
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1.
Lokasi
Penelitian
Peneliti melakukan
penelitian di PT. Telkom Malang yang berada di Jl. Ahmad Yani No. 11, Blimbing,
Malang, Jawa Timur 65126
3.2.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang
akan dilakukan merupakan jenis penelitian kausal atau sebab akibat, yaitu yang
berguna untuk menganalisis hubungan sebab akibat antara variabel-variabel yang
ada didalam penelitian. Berdasarkan uraian tersebut maka desain kausal mengarah
pada terjadinya hubungan sebab akibat antar variabel-variabel bebas yaitu Gaya
Kepemimpinan Transformasional (X1) dan Budaya Organisasi (X2) terhadap variabel
terikat Kinerja Karyawan (Y) di PT. Telkom Malang.
3.3.
Jenis dan Sumber
Data
3.3.1.
Jenis Data
Data adalah suatu yang
digunakan atau dibutuhkan dalam penelitian dengan menggunakan parameter
tertentu yang telah ditentukan (Priyatno, 2008). Jenis data dalam penelitian
ini (Prayitno, 2008) adalah :
1.
Data Kualitatif,
yaitu data yang berbentuk kata, kalimat, skema dan gambar, seperti
literatur-literatur serta teori-teori yang berkaitan dengan penelitian penulis
2.
Data Kuantittif,
yaitu data yang dinyatakan dalam bentik skalam numerik atau angka, seperti:
data kualitatif yang diangkana (scoring).
3.3.2.
Sumber Data
Sedangkan sumber data
dalam penelitian ini berupa (Priyatno, 2008):
1.
Data Primer
Menurut (Algifari, 2000) data primer merupakan data
yang diperoleh langsung dari sumbernya, diamati, dan dicatat untuk pertama
kalinya. Data primer dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner
(Ferdinand, 2006). Kemudian dalam pengumpulan data primer ini, peneliti
mengkombinasikan ketiganya yang ditujukan kepada para responden. Hal tersebut
dilakukan dengan mengacu penjelasan (Ferdinand, 2006) bahwa semua teknik
pengumpulan data berpotensi menghasilkan bias atau kesalahan, maka yang harus
dilakukan adalah memperkecil potensi bias tersebut dengan cara mengkombinasikan
beberapa teknik sekaligus.
2.
Data Sekunder
Data sekunder adalah
data yang diperoleh secara tidak langsung mengacu pada inforasi yang
dikumpulkan dari sumber yang telah ada diluar responden (Sekaran, 2006),
demikian data sekunder dalam penelitian ini :
a.
Melalui pustaka
teori, yaitu buku-buku yang ada kaitannya dengan variabel penelitian, dan
masalah yang diteliti.
b.
Melalui pustaka
hasil penemuan, yaitu dari skripsi, tesis artikel jurnal, internet, publikasi
pemerintah, koran serta dokumentasi.
3.4.
Populasi dan
Sampel
3.4.1.
Populasi
Populasi adalah
keseluruhan objek penelitian dan memenuhi karakteristik tertentu. Menurut
Sekaran dan Bougie (2013:262) populasi adalah kelompok orang, kejadian, atau
hal-hal menarik dan selanjutnya peneliti ingin menginvestigasi dan membuat
opini. Menurut Cooper dan Emory (1996:214) populasi adalah seluruh kumpulan
elemen yang dapat digunakan untuk membuat beberapa kesimpulan. Dalam penelitian
ini yang menjadi populasi adalah seluruh karyawan PT. Telkom Malang yang
berjumlah 467 orang.
3.4.2.
Sampel
Sampel merupakan
sebagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu yang juga
memiliki karakteristik tertentu. Sampel akan diambil jika peneliti tidak
sanggup untuk melakukan penelitian dengan mengambil data langsung dari populasi
(Efferin, dkk., 2008:73). Menurut Furchan (2005:193) sampel merupakan sebagian
dari populasi, atau kelompok kecil yang diamati. Penelitian sebagian dari
populasi disebut penelitian sampel (Arikunto, 2006:131). Sampel dalam
penelitian ini menggunakan teknik Proportionale
stratified sampling.
3.5.
Teknik
Pengumpulan Data
3.5.1.
Observasi
Proses pengumpulan data
dengan melakukan pencatatan atas perilaku seseorang, hewan, benda atau suatu
peristiwa dengan pengamatan secara langsung dan tanpa melalui proses
pertanyaan. Insturmen yang digunakan dalam observasi adalah panduan pengamatan
dan lembar pengamatan. Panduan dan
lembar pengamatan menjadi target penelitian. Arikunto (2006:229) mengemukakan
bahwa dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah
melengkapi dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. Instrumen penelitian
adalah suatu alat yang digunakan peneliti untuk mengukur fenomena alam dan
fenomena sosial (Sanusi, 2017:67)
3.5.2.
Wawancara
Wawancara merupakan
teknik pengumpulan data dengan menggunakan pertanyaan kepada obyek penelitian. Hasil
wawancara tersebut dicatat dan akan menjadi data penelitian
3.5.3.
Kuesioner
Teknik pengumpulan data
yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kueisoner merupakan metode
pengumpulan data lebih efisien dan cocok digunakan bila jumlah responden cukup
besar dan letak geografisnya terpencar atau luas.
3.6.
Uji Instrumen
3.6.1.
Uji Validitas
3.6.2.
Uji Reabilitas
3.7.
Uji Model
3.7.1.
Uji Koefisien Determinasi
(R2)
3.7.2.
Uji F
3.8.
Uji Asumsi
Klasik
3.8.1.
Uji Normalitas
3.8.2.
Uji Autokorelasi
3.8.3.
Uji
Multikolinieritas
3.8.4.
Uji
Heteroskedastisitas
3.9.
Uji Hipotesis
3.9.1.
Analisis regresi
linier
3.9.2.
Uji T
DAFTAR PUSTAKA
Bahri, Syaiful. 2018. Metodologi Penelitian Bisnis –
Lengkap dengan Teknik Pengolahan Data SPSS. Edisi Pertama., Penerbit Andi,
Yogyakarta.
Rachmawati, Ike Kusdyah. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Pertama, Penerbit Andi,
Yogyakarta.
Rifansyah, Ogi. 2016. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Dan Budaya
Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero),
Tbk, Kantor Wilayah Pekanbaru, Jurnal
Observasi Manajemen, Vol. 3, No. 2, Oktober 2016.
Aditia, Yanuar Chandra. 2015. Pengaruh Gaya Kepemimpinan
Transformasional Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai Dengan Motivasi
Kerja Sebagai Variabel Intervening (Studi Pada Karyawan Kantor Pusat PT. Nindya
Karya), Skripsi.
Garini, Ayu Putu Putri, I Wayan Bagia dan Wayan Cipta.
2016. Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Dan Budaya Organisai Terhadap
Kinerja Pegawai Pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Singaraja, E-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Manajemen, Vol. 4.
Mubarak, Ahmad dan Susetyo Darmanto. Pengaruh Gaya
Kepemimpinan Transformasional Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai
Dengan Komitmen Organisai Sebagai Variabel Intervening (Studi pada PNS di
Kecamatan Watukumpul Kabupaten Pemalang), Vol. 5 No. 1, September 2015 –
Februari 2016.
Komentar
Posting Komentar